INDONESIA!

Krisis ekonomi


Artikel ini saya tulis dengan memikirkan masa depan adik kecil saya, N.J Ayu Kirana Arsyad. Seorang anak yang saat ini masih tertawa lepas tanpa tahu seperti apa dunia yang akan ia hadapi. Saya menulis dengan harapan, ketika ia tumbuh dewasa, dunia ini bukan lagi tempat yang hanya berpihak pada segelintir orang. Saya ingin ia hidup di dunia yang adil, di mana kerja keras benar-benar dihargai, di mana impian bukan hanya milik mereka yang terlahir di keluarga berkecukupan.

Saya ingin dunia ini menjadi lebih baik, bukan hanya untuknya, tetapi untuk semua anak yang saat ini masih belajar mengeja kata, masih berlari-lari kecil tanpa beban, masih percaya bahwa hidup ini penuh kemungkinan. Saya tidak ingin mereka tumbuh dan mendapati bahwa harapan hanyalah ilusi, bahwa kejujuran kalah oleh koneksi, bahwa masa depan mereka telah ditentukan bahkan sebelum mereka bisa memilih jalan hidupnya sendiri...

INDONES!A: Merdeka, Tapi Masih Dijajah?

Di sebuah kelas yang penuh semangat, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya:

"Anak-anak, kita ini bangsa yang merdeka atau masih dijajah?"

Serentak, para murid menjawab, "Merdeka, Bu!"

Sang guru tersenyum pahit.

"Kalau kita sudah merdeka, kenapa ayahmu masih harus bekerja 12 jam sehari tapi tetap susah bayar sekolahmu? Kenapa kamu masih takut tidak bisa kuliah karena uang pangkal yang mahal? Kenapa kalau kamu miskin, peluang suksesmu lebih kecil dibanding mereka yang lahir dari keluarga pejabat?"

Ruangan tiba-tiba hening. Anak-anak mulai berpikir. Mereka ingat ayah mereka yang pergi sebelum matahari terbit dan pulang saat langit gelap. Mereka ingat ibu mereka yang menangis diam-diam karena tagihan listrik naik lagi. Mereka ingat tetangga mereka yang masuk penjara karena mencuri kayu, sementara di televisi, koruptor tersenyum setelah mendapat potongan hukuman.

Mereka mulai mengerti, mereka mulai mengerti.

Kolonialisme Gaya Baru: Jas, Dasi, dan Janji Palsu

Dulu, penjajah datang dengan kapal besar dan meriam. Hari ini, mereka bersembunyi di balik pidato-pidato yang menjanjikan perubahan. Mereka bukan lagi orang asing yang berkulit putih—mereka berbicara dengan logat yang sama, beragama yang sama, dan memakai batik yang sama seperti kita.

Mereka menyuruhmu belajar giat, mengejar impian, dan bekerja keras. Tapi mereka lupa memberi tahu bahwa sistem ini tidak adil.

Menurut data BPS, 40% anak dari keluarga miskin tidak bisa melanjutkan kuliah, bukan karena bodoh, tetapi karena uang mereka tidak cukup untuk membayar biaya masuk, itu dari data BPS, fakta dilapangan berkisar 60% - 70%. Sementara itu, anak-anak dari keluarga pejabat dengan mudah masuk universitas terbaik, bahkan dengan nilai pas-pasan.

Dulu, penjajah memisahkan pribumi dari pendidikan tinggi. Sekarang, sistem ekonomi kita sendiri yang melakukannya.

Kepada kalian, generasi yang masih duduk di bangku sekolah, dengarkan ini baik-baik: kalau kalian tidak bertindak, kalian akan tumbuh di dunia yang sama seperti kami dan orang tua kalian—bekerja keras hanya untuk bertahan hidup, sementara segelintir orang terus menikmati kekayaan tanpa perlu berjuang.

Politik Dinasti: Demokrasi yang Bukan Milikmu

Di kelas PPKN, kamu diajarkan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Katanya, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin.

Tapi coba lihat kenyataannya.

Menurut laporan KPK tahun 2023, lebih dari 170 kepala daerah berasal dari keluarga politik. Bahkan di Pemilu 2024 faktanya, 50% calon anggota legislatif berasal dari keluarga pejabat atau politisi lama, itu baru calon, dan yg terpilih 80%.

Artinya, jika kamu bukan anak pejabat, peluangmu untuk menjadi pemimpin sangat kecil. Demokrasi bukan lagi ajang memilih pemimpin terbaik, tetapi hanya sekadar formalitas untuk melegalkan kekuasaan keluarga tertentu.

Dulu, kita memberontak terhadap Belanda yang mengangkat pejabat dari kalangan mereka sendiri. Sekarang, kita diam saat politikus mewariskan jabatan kepada anak-anak mereka.

Kepada kalian yang masih sekolah: jika kalian tidak mulai berpikir kritis, kalian akan tumbuh hanya sebagai penonton, bukan sebagai pemain dalam sejarah bangsa ini.

Pendidikan: Mesin Produksi Kuli

Ketika kalian bangun pagi untuk sekolah, apakah kalian berpikir bahwa pendidikan akan membawa kalian ke kehidupan yang lebih baik?

Sebuah fakta pahit: 70% lulusan SMA di Indonesia berakhir di pekerjaan informal, tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian masa depan.

Kalian diajarkan untuk menghafal, bukan berpikir. Diberi tugas menulis esai tentang demokrasi, tapi tidak diajarkan bagaimana melawan ketidakadilan. Disuruh belajar sejarah perjuangan bangsa, tapi tidak diajarkan bahwa penjajahan belum benar-benar berakhir.

Ketika kalian lulus, banyak dari kalian akan menjadi pekerja di pabrik-pabrik yang gajinya bahkan tidak cukup untuk menyewa kamar kecil di kota. Dan sementara kalian bekerja siang malam, anak-anak pejabat sudah dijamin punya masa depan cerah, dengan gelar dari universitas luar negeri dan posisi nyaman di perusahaan milik keluarga mereka.

Kepada kalian, anak-anak muda yang masih di sekolah: jangan biarkan mereka menjadikan kalian buruh di tanah kalian sendiri. Jangan hanya menjadi roda dalam sistem yang menindas kalian. Mulailah berpikir, bertanya, dan menolak ketidakadilan.

Kesimpulan: Jangan Percaya dengan Kebohongan Mereka

Bung Karno pernah berkata bahwa perjuangan generasi berikutnya akan lebih sulit, karena melawan bangsanya sendiri.

Dan kini, kalian yang masih muda harus menghadapi realitas ini: kalian akan dijebak dalam sistem yang tidak adil jika kalian tidak menyadarinya sejak sekarang.

Mereka akan berkata kepadamu:

"Kalau kamu miskin, itu karena kamu kurang berusaha." (Padahal, sistem sudah dibuat agar kamu tetap miskin.)

"Belajarlah dengan giat, nanti kamu sukses." (Padahal, tanpa koneksi dan modal, kesuksesan hanya mimpi.)

"Negara ini sudah adil dan demokratis." (Padahal, hanya keluarga tertentu yang bisa naik ke puncak.)

Mereka akan memujimu sebagai "generasi emas", tapi mereka tidak memberimu emas itu. Mereka hanya memberimu ilusi harapan, sementara mereka sendiri memastikan bahwa anak-anak merekalah yang akan menguasai negeri ini.

Apa yang Bisa Kalian Lakukan?

Kalian tidak harus menjadi pemberontak dengan senjata. Tapi kalian harus mulai berpikir. Jangan terima mentah-mentah apa yang diajarkan di buku sekolah. Jangan percaya begitu saja pada orang yang berbicara manis di televisi.

Bacalah sejarah, tapi jangan hanya dari satu sumber.

Pelajari ekonomi, agar kalian tahu siapa yang sebenarnya menguasai negeri ini.

Kenali hukum, agar kalian tidak dibodohi oleh mereka yang menggunakan hukum sebagai alat kekuasaan.

Bertanyalah, jangan takut mengkritik, dan yang paling penting, jangan diam.

Indonesia tidak akan berubah jika kalian hanya diam dan menerima takdir. Jika kalian tidak mulai melawan ketidakadilan sejak sekarang, maka bersiaplah menjadi generasi berikutnya yang tetap bekerja siang malam, membayar pajak, sementara segelintir orang terus menikmati hasil kerja keras kalian.

Merdeka bukan hanya soal bendera dan lagu kebangsaan. Merdeka berarti berani melawan mereka yang mengkhianati bangsa ini dari dalam.

Jadi, apakah kalian hanya akan jadi generasi yang meneruskan perbudakan modern ini? Atau kalian akan menjadi generasi yang mengubah sejarah?


Lebih baru Lebih lama