Mata Jelata.- Dunia ini adalah panggung besar, dan kita, manusia, tak lebih dari penonton yang terpesona oleh ilusi di layar besar. Ilusi yang kita kenal sebagai kebenaran. Namun, apa jadinya jika “kebenaran” itu hanyalah hasil karya propaganda? Sebuah seni manipulasi yang canggih, dirancang untuk membentuk pikiran, menciptakan standar, dan, lebih sering daripada tidak, membuat kita merasa tidak pernah cukup baik.
Mari kita bicara tentang propaganda; apa itu, bagaimana ia merayap dalam kehidupan kita, dan bagaimana kita tanpa sadar menyerah pada pengaruhnya.
Apa Itu Propaganda?
Secara klasik, propaganda didefinisikan sebagai upaya terorganisir untuk memengaruhi opini publik dengan cara tertentu. Tapi mari kita sederhanakan: propaganda adalah cara halus (atau tidak begitu halus) untuk membuat Anda berpikir, merasa, atau bertindak sesuai keinginan orang lain. Tentu saja, mereka tidak akan bilang, “Hei, ini propaganda!” Sebaliknya, mereka akan membungkusnya dengan slogan-slogan catchy, gambar-gambar cantik, atau narasi emosional yang sulit ditolak.
Namun, jangan salah: propaganda bukan hanya tentang politik atau perang. Itu juga tentang bagaimana kita melihat diri sendiri—atau lebih tepatnya, bagaimana kita tidak pernah merasa cukup baik.
Kecantikan yang Dibentuk: Standar Sebelum dan Sesudah Propaganda
Mari kita mundur ke masa lalu, sebelum propaganda modern menyerbu kehidupan kita. Ketika kecantikan adalah soal keaslian, bukan soal tren di Instagram.
Di berbagai budaya, kecantikan sering kali dikaitkan dengan sesuatu yang praktis. Di Yunani kuno, misalnya, tubuh atletis dianggap ideal karena menunjukkan kesehatan dan kekuatan. Sementara itu, di Dinasti Tang, tubuh berisi adalah simbol kemakmuran—makan cukup, tidur nyenyak, hidup bahagia. Sederhana, bukan?
Namun, semua berubah ketika dunia menyadari bahwa standar kecantikan bisa dijual.
Lalu datanglah revolusi industri, di mana propaganda menemukan teman terbaiknya: media massa. Salah satu contoh paling nyata adalah bagaimana merek kosmetik di awal abad ke-20 mulai mempromosikan gagasan bahwa kulit cerah adalah simbol status tinggi. Logikanya? Kulit gelap berarti Anda pekerja lapangan; kulit cerah berarti Anda tinggal di dalam ruangan mewah. Tentu saja, siapa yang tidak mau jadi bagian dari kelas atas?
![]() |
| Sumber foto: google |
Kesempurnaan ala Media Sosial
Jika ada satu hal yang sempurna dalam hidup ini, itu adalah kemampuan media sosial untuk membuat kita merasa tidak sempurna. Ingin bukti? Lihat saja bagaimana algoritma bekerja.
Setiap hari, kita disajikan gambar orang-orang dengan tubuh ideal, wajah sempurna, kulit tanpa cela, dan kehidupan yang tampaknya tanpa masalah. Tapi tunggu dulu: apa yang kita lihat sebenarnya hanyalah versi terbaik (dan sering kali palsu) dari realitas.
Menurut laporan The Dove Global Beauty and Confidence Report (2016), 70% wanita merasa tekanan dari media sosial membuat mereka merasa tidak puas dengan tubuh mereka sendiri. Tidak berhenti di situ, studi dari The Royal Society for Public Health (2019) menemukan bahwa Instagram adalah platform media sosial paling berbahaya untuk kesehatan mental anak muda, terutama dalam hal citra tubuh.
Mengapa? Karena media sosial adalah bentuk propaganda modern. Semua foto itu; dengan filter, pencahayaan sempurna, dan sudut kamera yang dipilih dengan cermat; bukanlah kebetulan. Itu adalah desain.
Propaganda "Tubuh Ideal"
Salah satu contoh tragis adalah fenomena tren "summer body" yang sering kali meledak menjelang musim panas. Kampanye diet, produk penurun berat badan, dan program kebugaran semuanya menjual gagasan bahwa Anda harus "mengubah diri" agar pantas memakai baju renang di pantai.
Padahal, jika kita berhenti sejenak, pantai tidak pernah peduli dengan tubuh Anda. Laut tidak peduli apakah perut Anda rata atau tidak. Namun, industri diet senilai $72 miliar dolar per tahun atau sekita 1,94 Kuadriliun rupiah (Statista, 2022) hidup dari rasa tidak puas kita.
Bagaimana Propaganda Membentuk Pikiran Kita?
Propaganda bekerja dengan dua cara utama:
- Normalisasi: Mereka membuat Anda berpikir bahwa semua orang melakukannya. Lihat iklan. Semua modelnya sempurna. Semua orang terlihat bahagia. Jadi, kalau Anda tidak terlihat seperti mereka, Anda merasa ada yang salah.
- Pengulangan: Semakin sering sebuah pesan disampaikan, semakin besar kemungkinan Anda akan mempercayainya. Dalam media sosial, ini disebut exposure effect.
Lawan atau Tertipu: Pilihan Ada di Tangan Kita
Jadi, bagaimana kita bertahan di dunia yang penuh propaganda ini?
- 1. Kenali Polanya: Jangan percaya semua yang Anda lihat. Ingatlah bahwa media adalah kurator, bukan cermin realitas.
- 2. Ubah Perspektif Anda: Kecantikan bukan soal ukuran pinggang atau likes di Instagram. Itu soal bagaimana Anda merasa nyaman dengan diri sendiri.
- 3. Lawan dengan Pendidikan: Tingkatkan literasi media. Pelajari bagaimana propaganda bekerja, dan gunakan pengetahuan itu untuk melindungi diri Anda.
Mari Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri
Propaganda mungkin selalu ada di sekitar kita, tetapi itu tidak berarti kita harus menjadi korban. Dunia ini penuh dengan keindahan dalam berbagai bentuk, ukuran, warna, dan gaya. Jadi, alih-alih membandingkan diri kita dengan ilusi yang diciptakan media, mungkin sudah waktunya kita menciptakan definisi kecantikan versi kita sendiri.
Toh, kesempurnaan itu overrated. Jika Anda tidak percaya, tanyakan saja pada laut.

.jpeg)